Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H

7 Oktober 2008

Dari lubuk hati yang paling dalam,
kami sekeluarga memohon maaf yang sebesar-besarnya
jika dalam keseharian kami ada kesalahan
baik yang tersengaja maupun yang tidak disengaja

Semoga di hari kemenangan ini,
Allah mengaruniai kita hati
yang kembali ke fitrah.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI  1429 H
MOHON MAAF LAHIR BATIN


Perjalanan ke PITA GIRI 24-26 April 2008

25 April 2008

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di PitaGiri.

Itulah kalimat yang terucap dari bibir ini setelah mengalami penantian panjang, kami bertiga (Rafie, pak Hary Suswanto, pak Eko Subiyantoro) berangkat lewat Bandara Abdurahman Saleh Malang dengan pesawat Sriwijaya Airlines. Menurut jadwal pesawat ditiket jam 14.55 berangkat dari Malang, diperkirakan tiba di Jakarta sekitar 15.55 WIB. Ternyata pesawat delay sampai 17.30 karena alasan teknis…..

Cuapekkk deeh….. nunggunya. Kebetulan pada saat yang sama Kepala Pusat VEDC Malang (Dr.Imam Sutadji) dan Kasubsi Kerumah Tanggaan VEDC (pak Kasiman) juga mau ke Jakarta (Rapat Kerja), artinya beliau juga ikut menikmati :( keterlambatan itu. Karena kelamaan nunggunya, maka kami jalan-jalan ke Kota Malang makan Bakso Cak Man.  Setelah itu kami kembali ke airpot ternyata delay nya diperpanjang sampai 17.50 WIB.

Ya apa boleh buat…nunggu ajalah, yang penting bisa berangkat dan selamat sampai tujuan. Setelah pukul 18.00 WIB akhirnya pesawatnya datang juga, dan 30 menit kemudian pesawatnya terbang dan tiba di Jakarta satu jam berikutnya. Perjalanan yang “asik” belum berhenti sampai disitu, ternyata taxi yang dipakai dari Cengkareng ke Pita Giri ngeeeeebut…. tidak karu2an.  

Walaupun demikian akhirnya sampai juga di Pitagiri dengan selamat, walaupun agak terlambat dan acara pembukaan sudah hampir selesai. Kegiatan di Pita Giri adalah Evaluasi Pendamping ICT Biro PKLN Depdiknas yang berlangsung pada tanggal 24-26 April 2008

Semoga kegiatan… ini berjalan lancar dan bermanfaat bagi masyarakat luas..


"Saya Tidak Tahu…."

29 Januari 2008
“Awal dari pengetahuan adalah ketidaktahuan… “
– AnonimIni adalah sepenggal kisah yang terjadi beberapa waktu lalu. Ceritanya, seorang kawan hendak berkunjung ke kantor saya. Hanya berbekal alamat yang saya kirimkan melalui pesan singkat di ponselnya, dia pun berangkat menemui saya.

Ketika sudah berputar-putar beberapa kali dan tidak menemukan alamat yang dicari. Dan, alamak, pulsa di ponselnya pun sudah tinggal sedikit. Tak bisa menghubungi saya. Alhasil, jalan lain ditempuhnya. Dia bertanya pada orang di jalan. Rupanya, teman saya ini penganut peribahasa yang sudah lawas sekali: malu bertanya sesat di jalan….

Dia pun mencoba bertanya kepada orang sekitar. Seorang pria tua yang menjadi sasarannya. Dia mungkin berpikir, si bapak adalah orang yang tepercaya dan dengan usianya yang sudah lanjut, tiadalah mungkin dia berdusta. Dengan santun, sang teman bertanya pada si bapak tentang alamat yang dituju? Mau tahu jawabannya. Dengan lebih santun lagi, bapak itu menjawab, “Maaf, saya baru di sini satu bulan.”

Teman saya tadinya agak sedikit bingung dengan jawaban itu, ia pun menanyakan maksud lebih jauh tentang jawaban si bapak tersebut. Sekali lagi dia menjawab serupa dengan yang sebelumnya. Namun kali ini ada anak kalimatnya, “saya baru di sini satu bulan, belum hafal nama-nama jalan daerah di sini.” Voila, rupanya itu yang di maksud si bapak. Teman saya pun baru mengerti dan masuk kembali ke dalam

mobilnya setelah mengucapkan terima kasih.

Tak ada yang keliru dengan jawaban si bapak tersebut. Sang bapak adalah penganut adat Timur yang masih kental. Jawaban seperti itu, biasa kita dengarkan, apalagi di daerah. Walau sebenarnya, bapak tersebut cukup mengatakan secara sederhana dengan permohonan maaf, “saya tidak tahu.” Tapi, lain ladang lain belalang, lain orang lain pula isi kepalanya. Nah, si bapak itu sepertinya tengah menjaga sopan santunnya.

Namun kalau kita telaah lagi, sebenarnya bukan hanya si bapak yang berlaku seperti itu. Tanpa kita sadari, kadang kita diberi suatu pertanyaan, baik oleh atasan, teman sekerja, bawahan, atau bahkan kolega dan sejawat kita yang sebenarnya kita tidak tahu akan isi jawaban pertanyaan tersebut. Kita sering lupa bahwa jawaban paling cerdas dari suatu pertanyaan adalah “saya tidak tahu”. Untuk menjadi pandai, kita tidak harus mengetahui semua jawaban. Diperlukan tingkat keberanian dan kepercayaan yang tinggi untuk mengakui ketidaktahuan Anda.

Namun, yang perlu dicermati ialah jangan sampai secara tidak sadar Anda mengaku tidak tahu padahal sebenarnya Anda tahu. Lebih celaka lagi kalau Anda tidak tahu bahwa Anda sebenarnya tidak tahu. Kalau Anda ‘berpura-pura tahu’ atau mengatakan tahu dari suatu pertanyaan, tetapi sebenarnya Anda tidak tahu sama sekali, itu artinya Anda ’sok tahu’ alias ’sok keminter’.

Lantas bagaimana kalau Anda mengatakan ‘tidak tahu’, tetapi sebenarnya Anda tahu? Nah ini lain lagi. Tergantung konteks dan substansi dari pertanyaannya. Kalau hal itu menyangkut privasi seseorang atau hal-hal yang tidak perlu diketahui orang lain, Anda berhak diam atau mengatakan tidak tahu.

Ada hal yang perlu orang lain ketahui dan ada pula yang tidak. Namun bila Anda diberi pertanyaan dan kemudian Anda mengatakan ‘tidak tahu’, padahal sebenarnya jawaban yang Anda ketahui tersebut orang lain berhak tahu, mohon maaf, Anda telah melakukan dua kesalahan. Yang pertama, Anda telah berbohong. Yang kedua, Anda menyembunyikan fakta yang seharusnya diketahui orang lain.

Kalau memang Anda tidak tahu akan suatu jawaban, segeralah cari tahu jawaban tersebut. Karena secara tidak sadar Anda sedang dalam proses belajar dalam mencari jawaban tersebut. Anda harus sadar, Anda mempunyai keterbatasan dalam pengetahuan yang Anda miliki. Gunakan selalu pengetahuan Anda untuk hal-hal yang positif. Dan, jangan lupa, untuk selalu mencari tahu akan hal-hal yang memang Anda perlu ketahui, khususnya dalam pekerjaan yang Anda lakukan. Dengan demikian, Anda terhindar dari hal-hal yang tidak Anda ketahui lalu

berpura-pura tahu. Sok tahu sepertinya bukanlah jalan yang terbaik.

(Sumber: “Saya Tidak Tahu” oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta)


Selamat Tahun Baru 2008

2 Januari 2008


Selamat Tahun Baru 2008
Semoga tahun ini kami sekeluarga menjadi lebih baik daripada tahun sebelumnya, terutama kedekatan terhadap Sang Pencipta Alam Semesta

Aminn